Crane Kapal & Terapung
Riksa Uji Floating Ship Crane untuk SILO dan SIA
Kapal crane berlambung kapal dan bermesin sendiri yang fungsi utamanya mengangkat beban berat di laut, bukan mengangkut muatan.

Mengenal Floating Ship Crane
Floating ship crane, lebih dikenal sebagai crane ship atau crane vessel, adalah kapal yang dibangun khusus untuk mengangkat. Bedanya dari floating crane berbasis tongkang: ia memiliki lambung berbentuk kapal dan mesin penggerak sendiri, sehingga dapat berlayar ke lokasi tanpa ditarik dan bertahan di laut yang lebih berat. Bedanya dari ship crane biasa: pada kapal kargo, crane hanyalah perlengkapan untuk muatan kapal itu sendiri; pada crane ship, crane adalah alasan kapal itu ada. Bentuk lambungnya bisa monohull, katamaran, atau semi-submersible untuk kapasitas terbesar.
Crane utamanya umumnya berputar di atas pedestal atau tub di buritan atau sisi kapal, dengan kapasitas dari ratusan hingga ribuan ton. Kapal menjaga posisinya dengan sistem jangkar atau dynamic positioning, dan memakai sistem ballast berkapasitas besar yang bekerja selaras dengan gerakan crane agar kapal tetap tegak saat beban berpindah. Di Indonesia istilah ini jarang dipakai dalam keseharian; unit sejenis lebih sering disebut crane vessel atau heavy lift vessel, dan pengoperasiannya berada di bawah rezim keselamatan pelayaran dan klasifikasi, di samping ketentuan K3.
Penggunaan umum
- Instalasi dan pembongkaran anjungan minyak dan gas lepas pantai
- Pemasangan pondasi dan turbin angin lepas pantai
- Pekerjaan bawah laut: pemasangan struktur dan peralatan di dasar laut
- Salvage kapal dan muatan berukuran besar
Lingkup riksa uji Floating Ship Crane
Hasil pemeriksaan dan pengujian inilah yang menjadi dasar penerbitan dokumen kelaikan alat, yang di lapangan sering disebut SILO (Surat Izin Layak Operasi) atau SIA (Surat Izin Alat).
- Struktur boom, pedestal atau tub, dan sambungan ke lambung: retak lelah dan korosi laut
- Slewing bearing atau roller path dan pengikatnya
- Tali kawat utama, bantu, dan boom hoist beserta sheave dan pengikat ujung
- Hook block dan alat bantu angkat berat
- Rem, sistem pemantau beban, pembatas, dan alarm
- Keterkaitan crane dengan sistem ballast dan anti-heeling: fungsi dan interlock
- Uji fungsi dan uji beban sesuai ketentuan klasifikasi dan K3 yang berlaku
Dokumen yang perlu disiapkan
- Sertifikat klasifikasi kapal dan sertifikat alat angkat dari badan klasifikasi
- Buku stabilitas dan manual operasi crane dengan kurva kapasitas
- Register alat angkat dan sertifikat uji beban
- Sertifikat tali kawat, hook block, dan alat bantu angkat
- Catatan pemeliharaan dan bukti kompetensi operator
Dasar regulasi
Operator crane pada kapal crane wajib kompeten dan berlisensi. Lisensi K3 operator pesawat angkat diatur Permenaker No. 8 Tahun 2020; penggolongan dan kelasnya untuk crane di kapal crane dikonfirmasi pada naskah peraturan dan penyelenggara. Pemilik pekerjaan lepas pantai umumnya menambah syarat sertifikasi operator crane offshore dan keselamatan pelayaran.
Bagian Floating Ship Crane yang diperiksa
- Lambung kapal bermesin — Memberi daya apung, stabilitas, dan kemampuan berlayar sendiri.
- Crane utama di atas pedestal atau tub — Crane berputar berkapasitas besar dengan boom rangka.
- Boom rest — Penopang boom saat kapal berlayar.
- Sistem ballast dan anti-heeling — Memindahkan air dengan cepat untuk melawan kemiringan saat slewing dengan beban.
- Dynamic positioning atau sistem jangkar — Menjaga posisi dan haluan kapal selama pengangkatan.
- Main block, auxiliary block, dan whip line — Beberapa kait dengan kapasitas dan kecepatan berbeda.
- Sistem pemantau beban dan gerak kapal — Menampilkan beban kait, radius, heel, trim, dan gerak akibat gelombang.
- Kompensator gelombang (pada sebagian unit) — Meredam pengaruh gerak naik turun kapal terhadap beban, terutama untuk pekerjaan bawah laut.
- Geladak kerja dan sea fastening — Tempat meletakkan dan mengikat muatan atau modul.
Bahaya utama pada Floating Ship Crane
- Kehilangan stabilitas bila ballast tidak mengikuti gerakan beban
- Kehilangan posisi akibat gangguan dynamic positioning atau jangkar larat
- Beban dinamis akibat gelombang saat mengangkat dari tongkang atau menembus permukaan air
- Benturan beban dengan struktur anjungan atau kapal lain
- Kegagalan rigging pada beban sangat berat
- Cuaca berubah cepat di tengah pengangkatan yang tidak bisa dihentikan seketika
Pertanyaan seputar Floating Ship Crane
Apa saja yang diperiksa dalam riksa uji Floating Ship Crane?
Struktur boom, pedestal atau tub, dan sambungan ke lambung: retak lelah dan korosi laut; Slewing bearing atau roller path dan pengikatnya; Tali kawat utama, bantu, dan boom hoist beserta sheave dan pengikat ujung; Hook block dan alat bantu angkat berat; Rem, sistem pemantau beban, pembatas, dan alarm; Keterkaitan crane dengan sistem ballast dan anti-heeling: fungsi dan interlock; Uji fungsi dan uji beban sesuai ketentuan klasifikasi dan K3 yang berlaku.
Dokumen apa yang perlu disiapkan untuk riksa uji Floating Ship Crane?
Sertifikat klasifikasi kapal dan sertifikat alat angkat dari badan klasifikasi; Buku stabilitas dan manual operasi crane dengan kurva kapasitas; Register alat angkat dan sertifikat uji beban; Sertifikat tali kawat, hook block, dan alat bantu angkat; Catatan pemeliharaan dan bukti kompetensi operator.
Apa dasar regulasi K3 untuk Floating Ship Crane?
Operator crane pada kapal crane wajib kompeten dan berlisensi. Lisensi K3 operator pesawat angkat diatur Permenaker No. 8 Tahun 2020; penggolongan dan kelasnya untuk crane di kapal crane dikonfirmasi pada naskah peraturan dan penyelenggara. Pemilik pekerjaan lepas pantai umumnya menambah syarat sertifikasi operator crane offshore dan keselamatan pelayaran.
Riksa Uji SILO/SIA lain di kelompok Crane Kapal & Terapung
Jadwalkan riksa uji sebelum masa berlakunya habis
Ceritakan kebutuhan Anda. Tim Jasa Riksa Uji SILO akan membalas dengan rincian lingkup pekerjaan, jadwal, dan penawaran resmi.